April 25, 2022

Model Bisnis di Era Digital

Oleh : Gilang Ramadhan

(@T07-Gilang)





A. Model Bisnis

Michael Lewis dalam The New, New Thing, seperti yang dikutip dari laman Harvard Business Review, mengungkapkan penjelasannya yang sederhana tentang model bisnis ini, yaitu "sebuah rencana tentang bagaimana kamu menghasilkan uang." Sementara itu, Investopedia mengungkapkan hal yang sejalan dengan ini tentang model bisnis, yaitu "strategi utama sebuah perusahaan untuk menjalankan bisnis yang menguntungkan." 

Model bisnis adalah gambaran mengenai bagaimana usaha atau bisnis yang akan Anda lakukan. Lingkup product design hingga strategi marketing tiap business model berbeda satu sama lainnya.Seringkali pemahaman tentang apa itu model bisnis tumpang tindih dengan pengertian business plan. Keduanya adalah hal yang berbeda. Business model adalah dasar atau gambaran bentuk usaha. Sedangkan business plan adalah perencanaan operasional usaha kedepannya seperti apa. Menurut Nerd Wallet, model bisnis setidaknya bisa menggambarkan empat hal sebagai intinya, yaitu:    
1. Produk atau jasa apa yang akan dijual         
2. Bagaimana cara memasarkannya    
3. Berapa besar biayanya          
4. Bagaimana cara mendapatkan keuntungan

Seiring dengan perkembangan zaman dan tren yang terjadi, model bisnis ini pun bisa berkembang secara dinamis. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bisa saja menjadi model bisnis yang baru karena adanya perkembangan zaman, misalnya perkembangan teknologi. 

B. Jenis Model Bisnis           

           Sebagai awam dalam dunia usaha, mungkin Anda hanya tahu beberapa model usaha yang sering muncul ke tengah permukaaan. Namun ternyata jenis model bisnis adalah lingkup yang sangat luas. Berikut ini beberapa jenisnya yang dibagi ke dalam beberapa kategori.

a. Berdasarkan Proses Produksi

Menentukan model usaha bisa Anda tinjau dari proses produksi yang dilakukan selama bisnis berjalan. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

1. Distributor

Sebagai distributor, tentu Anda sebagai pelaku bisnis tidak perlu memproduksi bahan mentah menjadi barang jadi. Perusahaan distribusi Anda hanya perlu menjalin kerjasama dengan pemasok barang jadi atau perusahaan manufaktur.

2. Manufaktur

Berbeda dengan distributor, menjadi perusahaan manufaktur berarti melibatkan diri Anda dalam proses produksi barang secara langsung. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kemudahan akses ke pemasok bahan baku. Setelah itu, proses produksi dilakukan perusahaan Anda sendiri. Akhirnya, barang jadi bisa Anda jual secara langsung maupun tidak langsung kepada konsumen.

3. Franchise

Waralaba atau franchise adalah salah satu business model yang populer. Sebagai pelaku, Anda tidak perlu ‘membuka bisnis dari awal.’ Karena sistem kerja model yang satu ini adalah dengan menjalin kerjasama bersama sebuah perusahaan yang sudah memiliki brand terlebih dahulu.

b. Berdasarkan Revenue Source

Sumber pendapatan adalah komponen yang penting untuk dipertimbangkan juga dalam mengawali sebuah usaha. Berikut ini beberapa business model berdasarkan revenue source mereka.

1. Subscription

Business model yang satu ini kerap kita temukan dalam aplikasi penyedia konten hiburan. Mereka mengandalkan biaya langganan yang dikeluarkan pengguna sebagai sumber pendapatan.

2. Free and Premium Business

Di samping model langganan, tidak jarang kita temukan aplikasi atau situs yang menawarkan produk mereka secara cuma-cuma hingga berbayar. Biasanya, perusahaan yang menerapkan model ini dalam usahanya akan membedakan penyediaan fitur secara basic dan premium dalam aplikasi yang dibuat.

3. Hidden Revenue

Jika kedua jenis tersebut sangat mengutamakan peran pelanggan, perusahaan dengan hidden revenue model bergantung pada pengiklan. Semakin ramai pengiklan yang masuk, semakin terisi pula pendapatan perusahaan.

c. Berdasarkan Fisik Usaha

Selanjutnya adalah business model berdasarkan fisik usaha. Berikut ini macamnya.

1. Brick and Mortar (toko fisik)

Jika Anda berencana untuk membuka usaha dengan berjualan langsung dalam sebuah toko, maka model ini cocok untuk diterapkan. Sehingga, transaksi Anda (penjual) dan pembeli terjadi secara langsung.

2. e-Commerce

Seperti yang kita tahu, model yang satu ini belakangan sangat digemari masyarakat. Sederhananya model ini mengajak Anda sebagai penjual dan pelanggan bertransaksi melalui aplikasi berbasis internet.

3. Kombinasi

Di samping memilih keduanya secara terpisah, sekarang banyak perusahaan yang menggabungkan kedua modelnya. Sehingga di satu sisi perusahaan memiliki toko fisik, selain itu transaksi juga bisa dilakukan secara online.

C. Manfaat Business Model

Business model yang bagus tentu akan mendatangkan profit yang besar bagi suatu bisnis. Pasalnya, selain produknya disukai oleh pelanggan, ada kemungkinan investor tertarik untuk memberikan pendanaan.Nah, berikut ada beberapa manfaat yang didapatkan:

1. Unggul dari kompetitor   
Menurut Small Business, manfaat dari business model adalah dapat membuatmu unggul dari kompetitor.Terlebih, apabila model bisnis yang kamu terapkan terkesan unik dan menarik. Contoh sederhananya, kamu menerapkan bisnis online dengan menerapkan metode pembayaran digital. Hal ini tentu akan menjadi poin unggul bagi bisnismu dari kompetitor yang tidak memikirkan hal tersebut.

2. Menarik perhatian investor        
Business model yang bagus otomatis akan menarik perhatian investor untuk memberikan pendanaan kepada bisnis tersebut. Investor tidak peduli bisnis yang kamu jalani baru atau sudah lama. Asalkan mempunyai model bisnis yang mendapatkan profit banyak, investor tidak akan ragu untuk memberikan dana.

3. Manajemen keuangan yang teratur       
Melalui business model, sebuah perusahaan tentu dapat membuat anggaran yang tepat mengenai proses produksi, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, dan lain-lain. Dengan demikian, mereka dapat mengatur keuangan dengan baik. Sebab, kebanyakan bisnis mengeluarkan uang tanpa dianggarkan, sehingga tidak bertahan lama.

D. Konsep Bisnis Digital Startup   

Start up adalah perusahaan rintisan yang belum lama didirikan serta masih  dalam tahap pengembangan. Pengembangan yang dilakukan oleh start up yaitu mengenai produk, target pasar, model bisnis, maupun pelayanan. Seperti manusia, start up layaknya remaja yang masih mengalami perubahan dan dalam proses pendewasaan. Apabila start up telah dewasa, maka dapat disebut perusahaan yang sebenarnya. Neil Blumenthal, co-CEO sekaligus cofounder Warby Parker mengemukakan bahwa start up ialah perusahaan yang dibuat untuk memecahkan masalah di mana solusinya tidak terbatas bahkan tidak terjamin kesuksessannya. Berikut penjelasannya:         

1. Dibuat untuk Memecahkan Masalah.        
            Terdapat perbedaan antara start up dan perusahaan biasa. Perusahaan biasa cenderung menghasilkan produk sesuai permintaan pasar, sedangkan start up lebih fokus dengan masalah yang ada di pasar. Hal tersebut menyebabkan produk yang diciptakan start up menjadi solusi bagi masalah yang dialami orang banyak. Itulah mengapa orang-orang mengenal startup sebagai problem solver dan mempunyai ciri khas menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan teknologi. Misalnya dalam urusan transaksi, sekarang masyarakat lebih memilih menggunakan layanan transaksi online seperti dana, ovo, gopay. Selain itu, masih banyak produk digital yang berguna dan efisien seperti e-commerce, transportasi online, komunikasi dll. Biasanya layanan digital seperti itu disediakan oleh startup.

2. Solusinya yang Tidak Jelas atau Tidak Terbatas   
            Start up membawa solusi yang mana tidak hanya memecahkan satu masalah utama saja. Namun, start up juga memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah utama. Misalnya, dalam hal jual-beli produk secara offline atau langsung terdapat beberapa keterbataan. Solusi dari masalah tersebut ialah penjual dan pembeli dipertemukan melalui lapak online. Solusi tidak hanya sampai disana. Agar para e-commerce dapat bertahan, konsumen selalu diberikan solusi lainnya oleh mereka. Misalnya pemberian gratis ongkir, perlindungan data, kecepatan dalam melayani, dan sebagainya. Walaupun tidak ada hubungannya dengan masalah utama, hal-hal tersebut dapat mempengaruhi kelangsungan bisnis.

3. Tidak Terjamin Kesuksesannya     
.           Startup merupakan bisnis dengan resiko tinggi. Akibat berbagai hal tidak sedikit start up yang akhirnya runtuh. Salah satu faktor yang menyebabkan ketidaksuksesnya start up yaitu layanan atau produk yang kurang memberikan jalan keluar bagi target pasar. Akan tetapi hal itu bukan penentu start up tidak bisa sukses. Di luar sana banyak 3startup yang dapat bersaing bahkan mencapai predikat yang mengharumkan, seperti decacorn, unicorn, dll.

Referensi

https://glints.com/id/lowongan/business-model/#.YmZaDdpBzIV
https://seller.bukalapak.com/info/blog/seller-guide/115215-mengenal-tipe-model-bisnis-definisi-dan-jenis-jenisnya-yang-populer

https://www.info.populix.co/post/model-bisnis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.